lunedì 16 novembre 2009

Dear Zachary In Demand

Ada yang punya film ini kah??? Udah agak lama gw nyari-nyari ga dapet...
Masa sih penantian gw cuma berakhir di trailer youtube...
Gak menjamin filmnya bagus banget sih,,cuma si Kurt Kuenne yang merancang segala-galanya di film ini sepertinya meyakinkan, buktinya mendapat awards berikut :
  • Best Documentary nominated by Chicago Film Critics Assosiation
  • Sigma Delta Chi Award for Best Documentary presented by The Society of Professional Journalist
  • Special Jury and Audiences Awards at Cinequest Film Festival
  • Audience Awards at the St. Louis International Film Festival & Sidewalk Moving Picture Festival
  • Best Documentary (again) at the Orlando Film Festival
Dan poster film nya ini lucu banget......... :)

dear-zachary-poster-fullsize

Kate Moss & Albro









Familiar with this brand? Then I'll let you know that I'm quite a huge fan of the font. This was Moss' first line of clothing and other projects in the pipeline; let say perfume. Her image sealed by an identity mastermind, Peter Seville, in collaboration with typographer Paul Barnes.

Seville admited that it was quite difficult to find the right font for the word "Moss", to build an identity that is popular but quite boho. Then Barnes suggested one font that might be suited to their needs. He suggested a variation of ALBRO, a typeface by Alexey Brodovitch, a legendary art director of Harper's Bazaar from 1934-1958.

So this is the sample of Albro. Unfortunately, looks like the font is out of business - not for free uses. :(

venerdì 13 novembre 2009

Sam Ratulangi Traffic Jam

Ini adalah bukti nyata bahwa Jakarta kemarin hujan lebat dan mengakibatkan beberapa tempat seperti Wahid Hasyim dan Sabang tertimpa banjir, juga beberapa pohon tumbang ataupun sekedar miring-miring. Untungnya saya nggak lewat tempat-tempat tadi. Tapi tetap mengalami efek hujan kemarin, yaitu macet totalnya Jakarta. Gokil, 2 setengah jam kena macet. Tiba-tiba terlintas ingin mengendarai mobil matic. Hwwwwhhh. Tapi sepanjang perjalanan kemarin siang-sore, saya sadar bahwa Jakarta baru indah kalo lagi hujan(jangan lebay tapi hujannya)- sejuk, bersih, segar. Seperti di foto ini, asli kemarin rasanya dingin dan segar banget!

IMG_4502scape

giovedì 12 novembre 2009

Welcome - France Again!

Pathetically tragic! I couldn't say any words else while watching the ending. It was such an ending! Well done Philippe Lioret... And it's France's. Again. *clap hands*

welcome

mercoledì 7 ottobre 2009

Iseng-iseng tak berhadiah

img004

membayangkan apartemen kuno di tengah kota di Eropa sana..
ah mulai mengkhayal tak menentu. hahaha.

Sebenernya sih ini proyek iseng di saat tiba2 gue melihat adik laki2 gue yg baru masuk kuliah frustasi sambil memegang selembar kertas menuju tempat sampah. Lalu dia hendak membuang kertas itu. Gue bertanya "apaan tuh?". Dia bilang itu gambar yang gagal. Lalu gue cepat2 mencegahnya untuk membuang2 kertas itu. Alasan global warming nyangkut di otak gue. Tapi setelah liat gambarnya yang masih sketsa dan cat air biru baru saja membasahi sebagian langit di gambar itu, tiba-tiba gue punya alasan lain untuk mencegah adik gue membuang kertas itu. Jadilah gue iseng-iseng berubah menjadi seniman sehari (sejujurnya sih ga nyampe sejam). Dan gue menyimpulkan bahwa hari itu gue berjodoh dengan si kertas yang hampir ilang nyawanya karena dibuang dan ternyata dia bukan jodoh adik gue.

Orange Buddy, get happier!

Hey There, please meet Orange Buddy. It always smiles, but look at its eyes, looks sad. I'm afraid you, me, and other people were in the same position with Orange Buddy. No,no I hope not. But have we ever wish to be happier than that? Even just to wish and pray. Think of it.


img007

Jangan Nyampah

Menemukannya saat bongkar-bongkar peti ajaib di kamar. Kira-kira setahun lalu mendapatkannya dari seminar yang diadakan di kampus. I'm sure it'll be more usefull here than to be slipped somewhere in my magical box. Hoho :)

no styrofoam

never litter


venerdì 14 agosto 2009

I think I lost her




*Sigh.

mercoledì 12 agosto 2009

LITTLE ASHES




Kalo gw ngefans sama Mr.Pattinson, mungkin gw akan ilfil liat dia di film ini. Untungnya gw bukan fans dia. Adegan berbau homoseks di film ini bukan lagi dapat tercium, namun sangat terlihat dengan adanya adegan kissing antara Salvadr Dali (Robert Pattinson) dan Federico García Lorca (Javier Beltran).

Film ini bercerita tentang perjalanan Salvador Dali saat memasuki asrama pelajar di Madrid dan mulai belajar di sekolah seni, Academia de San Fernando. Di residencia (asrama), ia bergaul dengan Luis Bunuel yang aktif dalam menyutradarai film dan Frederico Garcia Lorca sang puitis. Tingkah eksentrik Dali memang sudah terlihat sejak usia belia. Pada saat-saat inilah Dali mulai bereksperimen dengan kubisme, dan menginspirasi banyak seniman lain, sampai akhirnya menjadi pelukis di aliran surealis.

Tapi kalo menurut gw, film ini jelas hanya ingin menyoroti sisi "lain" Dali, yaitu hubungan rahasianya dengan Frederico, yang pada saat itu sudah punya kekasih wanita. Dari mulai ia menyadari bahwa ia jatuh cinta pada lelaki itu, sampai mulai menjalin hubungan yang lebih intim. Frederico dikesankan menjadi seseorang yang sangat berpengaruh dalam perjalanan hidup Dali. Ia yang pertama kali mengapresiasi karya-karya Dali saat baru pindah ke Madrid. Konflik dimulai saat pacar Frederico mengetahui rahasia memalukan antara Frederico dan Dali. Segalanya berkembang semakin rumit, hingga mereka hanya punya satu jalan yang cukup menyakitkan.

Pada intinya, film based on true story ini lumayan membuka cakrawala dan mengenal kehidupan seorang Dali atau yang lebih makro, kehidupan generasi muda di Spanyol masa pra & pasca perang dunia I. Dan jangan kaget kalau ending film ini tidak seindah ending Cinderella ataupun Pretty Woman. Namanya juga based on true story....

Sayangnya di film ini nggak disorot bagaimana Dali terinspirasi oleh sesuatu atau seseorang dalam membuat karya-karyanya yang fenomenal selain lukisan. Atau juga bagaimana Dali sampai bisa memelihara kumis melengkung a la flamboyan yang ia populerkan itu. Tapi katanya sih beliau dapet influence dari Diego Velasquez, pelukis terkenal Spanyol. Di film ini juga tidak diceritakan bagaimana ia bertemu dengan Sigmund Freud, perjalanannya di dunia teater, ataupun keterlibatannya dengan Walt Disney. Anyhow, anda pasti bisa dapet sesuatu dari secuplik kehidupan seniman edan nan complicated sepanjang sejarah ini. :)

giovedì 30 aprile 2009

Almost Lost : Blue Card

Kamis, 30 April 2009. Nampaknya akan seperti hari-hari yang biasa saja. Tapi gw salah. Hari ini ada peristiwa yang tidak biasa namun bisa dianggap biasa2 saja karena predikatnya mungkin tidak "Wah" atau "Yah", tetapi malah bisa jadi "Wahahaha" atau bahkan "Yah elaaah". Dan kalo kata pepatah "Fools makes the same mistakes when he get fall into the same deep damn hole twice," maka gw bukanlah termasuk di dalamnya, karena jatoh ke lobang yang berbeda. Haha.

Jadi tadi siang sekitar jam 1 gw berangkat ke kampus. Masuk kampus harus bayar 2000 karena gw udah gak nempel stiker langganan lagi smester ini. Oke, gw jalanin walaupun terbilang gak hoki karena ketemu tukang karcisnya bukan si mbak2 cantik nan baik hati ato si Emod kumis yang bermurah hati untuk langsung memberikan si 'kartu biru' berlambang makara sebagai tanda masuk parkir mobil. Bayar 2000, otomatis dapet kartu biru berbahan plastik dan secarik kertas kuning kalo nanti mau masuk lagi biar gak bayar.

Gw ke kampus buat ngembaliin buku dan minjem buku. Satu dari perpus dan satu lagi dari temen. Jam 2an gw udah bisa pulang sebenernya, tapi ke kober dulu dengan niat beli dvd kosong. Tapi ujung2nya ke ujung gang Sawo itu buat beli dvd film. Sampe sana gw ngiler liat beberapa film, tapi mengingat skripshit belom kelar juga, niat diurungkan. tapi ketika niat hendak diurungkan, si mas dvd langganan gw itu bilang kalo besok harganya naek jadi 8 rb satu kalo 2 jd 15rb. Waduh,,,,,niat tidak jadi diurungkan sodara... Langsung gw samber film2 tadi.

Dan,,pas buka dompet,, twew! Duit gw seribuan beberapa lembar saja. O no! O no! (baca:o tidak; bukan : ono noh!) Saat itu dengan lebay gw sok ber-feeling kayaknya hari ini gw bakal tersandung kecil-kecilan pada beberapa hal yang akan gw jalani. Nah ini dia yang salah. Sok ber-feeling! Sok ber-spekulasi pikiran pula!

Untungnya ada temen gw si Bowo yang bak malaikat meminjamkan uangnya buat kepentingan tidak penting gw itu. Ya ampun. Keji banget ga sih gw? Oh, tentu tidak. Sebab ternyata gw baru inget dia juga nitip foto kopiin buku yang gw pinjem seharga PAS BANGET dengan harga dvd-dvd yang gw beli saat itu. Impas Bow! Thx anyway.

Abis dari kober, gw berniat ngambil duit di atm. Maka gw ke atm yang masih berlokasi di dalam lingkungan kampus. Gw pilih mipa. Pas ama bank gw. Meski jauh dari fakultas gw. Di bilik atm yang dingin dan harum, gw teringat bahwa gw harus transfer uang ke nyokap. Baiklah. Setelah masukin nomor pin, tiba2 atm-nya bilang bahwa gw harus ganti pin. Waduw. Alhasil gw cek ke orang bank-nya, katanya emang lagi ada pergantian digit nomor pin. Singkat cerita, masalah per-pin-an selesai, transfer kelar walaupun dengan bolak balik atm-bank-atm.
Tapi apa yang lupa sodara2??? Yak benar. Lupa ngambil duit. Dan gw baru sadar ketika dalam perjalanan pulang untungnya masih di dalam lingkungan kampus, tapi udah jauh dari mipa. O no! O no!

Yang ini gw coba selesaikan dengan "yaudahlah,besok kan bulan baru. Hehehe".
Tapi nasib berkata lain.
Sesampainya di gerbatama gw mo nyerahin kartu parkir yang berwarna biru toska itu ke satpam, dan gw meraba2 tempat dimana gw biasa meletakkan kartu itu. Tiba2 nihil. Waduw. Kemana pula itu kartu. Dengan sok tenang pas giliran gw buka kaca jendela, senyum manis ke satpam, dan berkata "Pak, belom ketemu nih kartunya. Bentar ya.."
Gw minggir ke kiri. Si satpam jalan kaki ngikutin dimana mobil gw merapat. Tampangnya datar banget. Gw mulai kelabakan nyari2 itu kartu di manapun yang bisa gw cari. Namun hasilnya Nol!!!! O no! O no!

"Kalo ilang gimana pak?"tanya gw.

"Denda 50 ribu Mbak" jawab satpamtampangdatar.

O no! O no! Busyeee adanya seribuan 5 lembar di dompet gw ini..

"Kalo nggak Mbak cari dulu aja"

"Kayaknya gak ada nih pak, duit juga ga ada"

"wah gimana ya Mbak..."

"Coba saya masuk lagi deh ke dalem, ambil duit dulu."

"Oke, tapi KTP Mbak-nya saya tahan dulu ya"

"Iya sip"

"Nanti mintanya KTP aja pas masuk, jangan kartu"

"Okeh"

Pasrah dah gw...

Prosedur berjalan seperti yang sudah dibicarakan pada dialog sebelumnya. Gw memasuki lingkungan kampus lagi dengan muka ungu sambil meminta KTP di loket karcis masuk kampus. Terheran2 dimanakah kartu itu berada saat ini. Usaha mencari di mobil sudah maksimal. Gw cuma bisa pasrah kepada Allah swt dan mulai nyebut kalimat tasbih dan salawat nabi, sambil berharap itu kartu nongol ke permukaan di depan mata gw.

Next destination tentunya ATM, tapi kali ini lebih dekat, di psikologi. Berhasil ambil duit buat denda yang sebenarnya kurang ikhlas jika harus gw serahkan. Hix. Tapi pas keluar psikologi, gw tiba2 pengen balik ke tempat dimana gw hari ini parkir. Lalu menapaktilasi kemana aja hari ini gw berjalan kaki. Siapa tau bertemu si kartu biru.

Dan bener aja... dalam upaya pencarian, si kartu biru toska mencuat dibalik rerumputan hijau deket fakultas gw. Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaw berhasil berhasil berhasil hore! (dgn aksen dora)

Rasanya pengen sujud syukur, tapi kan konyol di tempat umum, di rerumputan pula, banyak orang pula. Akhirnya gw balik lagi ke satpamtampangdatar dan memasang senyum segembira mungkin bahwa gw gak jadi nyerahin 50rban gw ke tangan dia. Hahaha. Sori brur.
Dan gw berhasil keluar kampus dengan lega sambil nyengir lebar.

Next destination is photo copy deket rumah. Berniat moto kopi buku temen menjadi 3 kopi, satu buat dosen pembimbing yang nitip, satu buat bowo yang nitip juga, satu buat gw. Sampe sana, mas-mas foto kopi-nya bilang,

"wah mesin kita udah tua, moto kopi yang warna ginian kurang nyata"
Sebabnya lembaran2 dalam buku itu ada yang background-nya berwarna. Pas di-tes selembar,,emang bener kurang kereng warna tulisannya jadinya. Tapi beliau kemudian ngasi saran buat ngopi di tempat kopi digital di perempatan. Lagi-lagi tempat yang baru tadi gw lewati akan menjadi next destination gw.

Aaaargh.....

Akhirnya gw balik lagi ke perempatan untuk ngopi tuh buku.
Sambil berharap fenomena "bolak balik" gw hari ini akan segera berakhir.

Setelah gw inget2, hari ini gw menjalani kekonyolan fenomena "bolak balik ke tempat yang sama gara2 tersandung hal kecil yang cukup menyita waktu dan bikin gerah" adalah sebanyak 3 kali. Itu setelah gw sok ber-feeling waktu kehabisan duit buat beli dvd.

Jadi, pesen gw adalah :

1. Ucapkan salawat nabi atau tasbih ketika anda sedang kehilangan barang dan mencarinya. Or even when you have no idea where the heck it is. Niscaya Allah swt akan selalu membantu hambanya bahkan di saat terakhir pun.

2. Kepanikan disertai muka ungu, ijo, apalagi biru tidak akan membawa anda pada penyelesaian masalah. Maka berusahalah tenang dulu dan tarik napas sebisa2nya agar relax sejenak.

3. Jangan sok ber-feeling, berintuisi, bernujum, dan sebagainya tentang kesialan yang akan menimpa anda hari ini, besok, dan masa depan. Tetaplah optimis dan berdoa.

Sekian.

*****

martedì 21 aprile 2009

Name Nome

Killing few times for an "oh very unessential" thing to do with facebook.. playing with NAME GENERATOR on Facebook. But maybe IT IS how Facebook remains different from the others.. Hohohoho... Anyhow,,it's fun to know what are my other fake names beside my real name.. :D

Princess Name : Zara the Tough, Princess of Vaniria

Teddy Bear Name : Shaggy Little Bear

Hippy Name : River Rain

Pirate Name : Captain No Beard of the pirate ship Rusty Bottom

Leprechaun Name : Underpants O'Reilly

Smurf Name : Hypochondriac Smurf

Royal Name : Earl Zara the Talented

Italian Name : Giuseppe Mancini

Presidential Code Name : Hotshot

Spring Fairy Name : Iris Lake-Mist

Mafia Name : Tony the animal Lucchese

Cowboy Name : Slim 'Pink-Chaps' Calhoun

Ninja Name : Mad Assassin

Soap Opera Name : Romeo Howard

Villainess Name : The Souless She-Devil

Drag Queen Name : Rosie Cheeks

Cajun Name : Jean Pierre Couvillion

Barbie Name : Hippie Barbie

Witch Name : Selena the Wooden Legged Witch

Superhero Name : The Charming Mime



What are yours???

mercoledì 8 aprile 2009

Dia Bermimpi



Dia mimpi anak-anak sekolah lagi
Nasi kerak berubah spaghetti
Pohon asem berbuah cherry

Dia mimpi rumahnya berdiri di hadapan
di atas pulau perawan
di tengah laut penuh ikan

Dia mimpi pelabuhan kembali ramai
Pasir-pasir berlimpah di pantai
Berdatangan saudagar saudagar lihai

Dia mimpi hampir ngigau
Tertawa tawa tapi parau
Ia pikir tanah ini ladang tembakau

Sebab negeri ini telah dibingkai
Tiap detiknya kini diintai
Ingin melawan, tak ada perisai

Aku ingin teriak
Tolong dia, Nak

Bangunkan dia dari tidurnya
Tapi pastikan dulu dirimu terjaga
Tanda engkau sudah dewasa

Jika dia bangun tolong bilang
Negeri ini penuh hutang
Bukan tempat mengeruk uang

Ini memang jalan panjang
Tempat kita akan berjuang

*untuk generasi muda kita

Water Castle in Jogja

Beberapa waktu lalu, saat saya mengunjungi Yogyakarta, saya menyempatkan diri ke sebuah situs wisata yang cukup terkenal di Jogja selain candi-candinya. Saya memilih Taman Sari Water Castle, yang juga termasuk dari kompleks Keraton Jogja. Letaknya di tengah kota. Dari Malioboro lurus ke arah Keraton Jogja, kalau naik becak lebih mudah, tinggal bilang ke abang becak : "Taman Sari, pinten?" which means "ke Taman Sari berapa?" Nah jawaban yang "benar" (recommended) biasanya sekitar 5000 rupiah. Malah biasanya itu abang ngajakin jalan2 sekitar kompleks Keraton dan situs-situs menarik lainnya di tengah Jogja dengan segala jalan pintas yang beliau sudah hafal, tapi tentunya nambah budget, dan kalau Anda beruntung, harga tersebut bisa sudah termasuk Jogja Pedicap Tour (alias Tur becak ala Jogja).

Kenapa Taman Sari?
Jujur aja, pertama kali saya mendengar kata TamanSari dari satu menu minuman di sebuah restoran, sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar.Hehehe...Sejak itu saya penasaran kenapa minuman itu diberi nama taman sari? Kenapa taman sari? Apa itu taman sari? Ada apa di balik Taman Sari?
Dan......akhirnya baru kesampaian mengunjungi Taman Sari itu sendiri 10 tahun kemudian. Haha.

Oke, Taman Sari letaknya di sebelah baratnya Keraton Jogja. Begitu masuk ke arealnya, saya melihat beberapa turis asing sedang berfoto ria di depan fasade Taman Sari. Di sebelah kanan bule-bule itu ternyata ada tempat penjualan tiket masuk. Nah ini diaaaa... Saat itu saya santai dan nggak berasa kenapa2, maka pas tukang tiketnya nanya "berapa orang?" langsung saya jawab "empat (4)". Udah siap ngeluarin kocek yah minimal 20rb lah. Tapi,

Jeng jeng!
"10 ribu"

Ternyata satu tiketnya Rp 2500. Nah kalo Anda pakai mobil, akan dikenakan biaya lagi untuk parkir, dan kalau anda membawa kamera, kena biaya Rp1000 kalo ga salah.

Maka saya mulai memasuki pintu utama Taman Sari dengan mengemban pertanyaan "Apa yang akan saya dapat dengan Rp 2500?" Haha,,pertanyaan yang sedikit berbau kapitalis realistis ya?

Tiba di ujung pintu, tiba2 saya disambut oleh seorang tour guide muda yang siap mengantar kami keliling Taman Sari... Ok, ini salah satu yg tidak terpikir oleh saya ketika mengetahui harga tiketnya.

Di pintu masuk, ada detil yang cukup menarik perhatian saya. Pegangan tangga berbentuk naga.


Begitu masuk ke dalam, saya disambut pemandangan khas istana Jawa. Sambil si tour guide ngoceh, saya mengabadikan gambarnya. Kemudia tour guide membolehkan kita memetik buah yang ada di pohon kecil dalam pot besar (eh?) yang katanya bisa dijadikan kutek bening di kuku. Konon, wanita-wanita keraton memakai getah buah tersebut untuk mempercantik kuku mereka.





Taman Sari dibangun sebagai tempat peristirahatan dan pemandian Raja Jogja saat itu(Sultan Hamengku Buwono I). Makanya letaknya nggak jauh dari Keraton.
Kalau dilihat, arsitektur Taman Sari bergaya Eropa campur Jawa. Ternyata menurut info, bagunan ini memang dibangun oleh arsitek asal Portugis dan Spanyol waktu zaman Belanda dulu.

Di bagian tengah kompleks Taman Sari, barulah terdapat kolam pemandian yang bener-bener seperti kolam renang. Di sisi kiri adalah kolam bagi permaisuri dan selir-selir raja. Sedangkan sebelah kanan, adalah kolam pemandian bagi putra-putri raja. Pesta mandi bareng ini ternyata ada ceritanya. Dulu raja naik ke atas menara di dekat pemandian istri-istrinya. Dari jendela menara, terlihatlah selir2nya itu mandi. Lalu beliai berbalik badan, dan melemparkan sekuntum bunga ke arah kolam itu. Nah, siapa yang dapat bunga itu, maka ia boleh mandi bersama raja di kolam yang lebih private hari itu. Wow! Doorprize?


Tempat raja memandang ke kolam selir.




Kolam selir

Kolam raja tidak jauh berbeda bentuknya, hanya saja letaknya lebih di dalam. Untuk mencapainya, kita harus melalui kamar dimana raja menjamu si "selir of the day" dan kamar2 lain tempat selir-selir berganti pakaian dan berhias untuk menghibur raja. All for you, Your Majesty! :P

Saya benar-benar terpukau dengan bangunan tua abad 17 M ini, arsitekturnya mungkin bisa mengubah mood setiap pengunjung yang datang menjadi serasa bagian dari kerajaan Jogja. At least it works on me. Hoho.

Lalu kami dibawa keluar area pemandian, dan mendapati taman yang cukup luas bebentuk lingkaran. Di depannya terdapat tembok gapura besar dengan pintu setinggi manusia di tengah2nya. Tembok ini tinggi besar dan dipenuhi relief. Ternyata sebenarnya itulah pintu masuk utama saat Taman Sari masih aktif beroperasi. Tapi pintu utama itu kemudian ditutup, dan dialihkan ke bagian belakang, yang berarti pintu utama yg saya masuki tadi adalah justru pintu belakang.
Kalau Anda bertanya, kenapa ditutup?
Check it out on the spot guys!

Ada satu tempat lagi di kompleks Taman Sari yang berikutnya akan saya datangi. Yaitu Mesjid Apung alias Mesjid di bawah tanah, bawah danau, or whatever. Danau? Sebab dulunya kompleks Taman Sari sebenarnya dikelilingi oleh air. Air ini merupakan Situ yang nyambung dengan salah satu kali di Jogja. Dari Keraton, raja biasa menyeberang danau dengan perahu untuk sampai ke Taman Sari. Terbayang langsung oleh saya, bagaimana suasana Taman Sari ini dahulu kala, pastilah elok dan tenang. Ok, sampai sini saya beranggapan, Taman Sari jelas jauh lebih mahal daripada harga tiket masuknya.Haha.Oops..semoga pihak Taman Sari nggak menaikkan tarif masuknya nih..

Untuk mencapai Mesjid Apung, kita akan melewati perkampungan warga setempat dulu. Sebenarnya, perkampungan ini dulunya taman bunga yang indah, tempat raja berjalan2 santai sambil berbincang soal masalah kerajaan dan lainnya. Tetapi pekarangan indah itu kini disewakan oleh pemerinta kota setempat bagi warga Jogja sebagai tempat tinggal.

Mesjid Apung ternyata sama sekali tidak berbentuk seperti mesjid yang ada di benak saya. Bentuknya bulat silinder, terdiri dari dua lantai. Kenapa harus bulat melingkar? Coba Anda lihat film-film yang berkisah tentang abad 16-17, ada nggak pidato yang menggunakan microphone? Dengan ilmu, bentuk bulat melingkar ini dibuat agar suara ceramah, takbir shalat, bahkan mungkin Adzan terdengar lebih keras, karena akan menimbulkan gaung ke seluruh bagian mesjid. Imam shalat akan berada di tengah-tengah mesjid, di atas sebuah mimbar berbentuk persegi yang berada di atas ketinggian 5-6 anak tangga. Dari mimbar itu, jika mendongakkan kepala ke atas, kita akan melihat langit terbentang luas. O-o...mesjidnya alam terbuka? Nope, kata si tour guide, dulu lingkaran terbuka di bagian atas mesjid ini berupa kubah. Tapi tetap tertutup air, wong di dalam air. Sejenak saya menyimpulkan, berarti kita mustahil akan melihat fasade mesjid ini.

Menurut si tour guide, mesjid ini berada di bawah danau, dan biasa dipakai oleh raja sebagai tempat melaksanakan Sholat berjamaah, terutama Sholat Jumat. Jadi mesjid ini dibangun menyerupai membangun bendungan, untuk sampai disana, raja harus menuruni anak tangga ke bawah tanah dan melewati terowongan yang panjang. Mmm...kasian banget raja jalan kaki. Ternyata kata si tour guide, beliau dibawa pakai tandu. Kenapa musti di bawah air? Zaman itu, kegiatan sholat atau keagamaan Islam berusaha ditutup2i dari penglihatan Belanda dan musuh lain karena masih belum menjamur seperti sekarang. Agama Islam masih dianggap baru di tanah Jawa.


Lantai 1 Mesjid Apung


Tempat imam

Di terowongan bawah tanah ini saya menemukan jalan/lorong yang jalan masuknya ditutupi berkarung2 pasir. Apa itu?????
Yang ini saya konfirmasi ke 2 orang guide. Kata tour guide saya, jalan yang ditutup itu adalah jalan terusan ke Keraton. Beliau juga bilang, ketika musuh datang, raja akan menggunakan lorong ini untuk kabur ke tempat persembunyian dengan menaiki kuda.

Tour guide kedua saya temui saat rombongan keluarga saya memasuki Mesjid Apung. Kata guide ke-2 ini, lorong yang ditutup itu merupakan jalan tembus ke kediaman ratu pantai selatan alias Nyi Roro Kidul. Sebab dulu raja menjalin hubungan kerja sama dengannya.Fiyuuhh,,terserah anda mau percaya yang mana. Tempat peninggalan sejarah memang selalu meninggalkan misteri untuk menarik perhatian pengunjung bukan?

Itulah saatnya tour Taman Sari selesai. Setelah melewati lorong2 (lagi) dan lorong yang lain untuk mencapai jalan keluar kompleks, akhirnya saya keluar dari komplek Taman Sari. Lalu berterima kasih pada si tour guide yang rela capek2 ngeladenin pertanyaan2 saya. Dan saya menyimpulkan, Rp 2500 itu ternyata bisa membawa kita melanglang buana ke abad-abad sebelumnya, jauh ke tempat yang berbeda dari apa yang mereka tawarkan pada wisata Taman Sari ini. Sayangnya, tidak ada guide map atau setidaknya manual berupa kertas yang diberikan ketika kita memasuki tempat wisata ini. Yah tidak bisa berharap banyak memang. Rp 2500 saja sudah menahan Anda untuk berharap banyak. Berharap aja salah satu dari kita bisa berkontribusi meningkatkan fasilitas wisata unik ini.

Tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang Taman Sari? Bahkan ingin merasakan virtual tour Taman Sari?
Bisa lihat di : Watercastletamansari.blogspot.com

lunedì 6 aprile 2009

Iseng iseng with Lana

My sister Lana (4 years old) really likes drawing,,
And I'd love to do that with her..

So, here they are...









giovedì 8 gennaio 2009

Palmsuiker

Aku tatap dua bola matanya. Yang empunya tidak membalas. Dia sibuk memasukkan sachet demi sachet gula ke dalam segelas kopi panas. Gadis yang kubicarakan ini penikmat kopi manis. Dua sendok teh gula sering mendampingi kopinya. Pelayan kafe, mbak-mbak warung Bu Dar, dan aku sendiri hafal betul takarannya. Lain dengan kopi di kantor, di hotel, atau di restoran, kopinya sudah tersedia pahit. Butuh bersachet-sachet gula pasir untuk memaniskannya. Kadang ia memasukkan tiga sachet gula. Kalau belum juga, empat. Yang penting manis. Pertama kali aku protes, dia jawab dengan mudahnya. "Soalnya aku manis."

Tapi menurut lelaki sepertiku dia tidak semanis itu. Tidak semanis dua sendok gula, bersachet-sachet gula, dan mustahil dikerumuni semut. Hingga detik ini aku masih berpikir begitu. Dia gadis paling jenaka di dunia. Di dekatnya bisa dipastikan ada tawa. Bermacam lelucon mulai dari yang jenius sampai yang sampah keluar dari mulutnya. Berjam-jam bersamanya hampir terasa 10 menit saja. Aku ingin bilang dia gila, bukan gula.

Jauh di dalam pikiranku, dia lebih tepat dibilang gadis pembunuh. Aku pernah mati suri, mati susah sendiri. Bukan main sakitnya. Tanpa pistol, tanpa pisau, tanpa bambu runcing, yang jelas tanpa darah. Ini luka dalam, dalam sekali, transparan. Tidak ada obatnya. Karena itu aku menaruh benci padanya. Kali ini saja aku terpaksa berhadapan dengan dia di kedai kopi pilihannya.

Tiba-tiba dia bergumam "Akhirnya manis juga."

Basi. Pikirku.

"Poffertjes kamu lama juga ya.. Nih mau coba wafel-ku nggak?"

Mentang-mentang punya situ lebih cepet diantar, sok baik. Pikirku lagi.

"Enggak, lagi gak napsu.. Latte cukup," jawabku.

"Konsep campaign yang kamu ajuin brilian, gak ada yang bakal ngalahin tuh... si Burnett sekalipun tewas deh... Hahaha.."

Yak, akting dimulai. Badut ini sedang berpura-pura senang karena konsep campaign-ku diterima si klien dan diiringi tepukan kuat di bahu oleh si bos. Jauh benar dia membandingkan otakku dengan otak Leo Burnett atau John Burnett, silakan pilih, aku enggan tanya Burnett yang mana.

"Alah, gara-gara kemarin nyampah doank kok...."

"Nyampah-nya situ bikin duit kan?"

Lagi-lagi sok bahagia dengan keberuntunganku.

"Belumlah duitnya...Lagian gak terlalu berharap, heran kok mereka bisa suka padahal out of brief," semoga setelah ini dia diam. Tapi mustahil.

"Lho? Ya harus gitu.... out of brief kan sama dengan out of the box. Haha.."

Sampai kapan dia tahan berpura-pura memuja. Aku tidak tahan dengan mimik sok bahagia itu. Sejak pertama kenal dia, itulah mimiknya. Mimik inosen, mimik tidak ada beban. Padahal bertubi-tubi dijajah hujatan orang, termasuk aku. Belum pernah aku melihatnya geram. Tapi dalam keadaan sendiri, dia pasti tidak sekuat ini. Itu pasti.
“Weyyy, jangan maksa gitu donk mujinya Mbak...” Aku cuma ingin melihat dia menangis di depanku. Lalu menjauh dariku. Pergi sana.

“What? No no. It was true.... Aku suka sama konsep kamu..”

Ini berlebihan. Benar-benar tidak bisa diterima. Dia menghinaku. Baru kali ini bos menepuk bahuku. Baru kali ini konsep asliku yang terpakai. Sebelumnya selalu dia, atau aku dibantu dia. Selalu ada dia. Dia ini sebenarnya gadis brilian. Gadis pemimpi yang siapa pun tak sanggup memasuki mimpinya termasuk aku. Walaupun dia bilang aku mengerti dirinya, itu hanya bohong belaka. Dia selalu pura-pura rendah. Semua orang kena tipuannya.

"Konsep sampah gini suka? Yakin?"

"Sampah apaan sih? Kok kamu nggak menghargai karya kamu sendiri?!" kalo boleh dibilang, nadanya suaranya masih sampai ’fa’ menuju ’sol’. Harusnya ini berhasil. Tapi kita lihat saja.

"Ini kan hasil pemikiranku, aku yang tau ini sampah atau bukan."

"Kamu salah, orang lain tau ini sampah atau bukan. Aku tau ini bukan sampah."

Ya Tuhan, apa yang salah sih dari orang ini. Kenapa lagaknya selalu seolah benar, seolah tulus, seolah malaikat.

"Kok jadi kamu yang men-judge?"

Satu kalimat lagi dia akan pergi, aku bersumpah.

"Siapa lagi? Orang-orang di sekitar kamu berhak menilai. Kalau nggak mau dinilai lebih baik kamu hidup di Jupiter."

Entah manusia atau bukan, nada suaranya malah turun jadi ’re’. Aku benar-benar terpojok. Rasanya pikiran ini berjibaku mengentaskannya.

"Oke, aku ke jupiter, tapi dengan jaminan kamu nggak ngintil di belakangku"

"Jadi kamu nggak mau kerja sama denganku?" Dia berdiri dari tempat duduknya.

"Ah, mulai deh ngaco.... Udah ah, capek!"

Tiba-tiba Pofertjes pesananku datang. Siapa yang sangka gadis ini duduk lagi di kursinya, dan menaburkan palmsuiker di atas poffertjes-ku.

“Aku minta maaf, telah bikin kamu selalu berpikiran negatif terhadap semua tindakan dan ucapanku.”

Kupikir dia jelas bukan manusia. Kalau aku bergumam saat ini, nadaku pasti sudah naik satu oktaf dari sebelumnya. Maka itu aku memilih diam. Kemudian menatap kedua bola matanya, yang kini pun tidak membalas. Dia sibuk melumuri poffertjes-ku dengan es krim, dengan palmsuiker, dengan ketulusan hatinya, dengan seribu maafnya, dengan senyuman penyembuhnya dan dengan mimik yang pernah membunuhku 2 tahun yang lalu. Aku kagum dengan gadis ini. Hanya saja aku tak sanggup memilikinya utuh. Karena aku yang bukan manusia. Aku pendusta yang berharap dapat mengeluarkan sinar semeriah sinar manusia di hadapanku.